Agama Baha’i dan Komentar Kritik Ulama MUI

1511
Advertisement

Idjoel News Inilah beberapa kritik dan komentar ulama Majelis Permusyawaratan Ulama (MUI) kepada aliran Baha’i yang menjadi agama baru di Republik Indonesia.

Lalu bagaimana komentar dari para ulama yang ada di Indonesia?

Advertisement

Sebenarnya isu ini sudah lama beredar dan sudah sempat dilarang oleh Presiden Republik Indonesia ke 1, Soekarno melalui Keppres Nomor 264 Tahun 1962. Isi Keppres tersebut pada dasarnya selain melarang Agama Baha’i, juga melarang Freemasonry dan segala turunannya.

Menurut lasniran dari voa-islam, Ketua Dewan Pimpinan MUI Pusat, KH. Muhyidin Djunaidi, menyatakan Baha’i adalah agama produk manusia dengan pendirinya, Bahaullah, yang mengaku sebagai manifestasi Tuhan di dunia.

“Misi utama agama Baha’i adalah menyampaikan perdamaian dan keadilan universal. Semua agama dianggapnya sama baik,” tutur Muhyidin saat dihubungi ROL, Kamis (23/7) malam.

Menurut Kiai Muhyidin, Baha’i mengakui Bahaullah sebagai Tuhan Maha Esa yang mereka sembah. Pengikut Baha’i menekankan tentang pentingnya pendidikan dan emansipasi mutlak bagi kaum perempuan.

Pendiri agama Baha’i adalah orang Iran pada tahun 1884 yang bernama Babullah, atau “pintu Allah”. Jadi, sebenarnya Baha’i punya kemiripan dengan agama dunia lainnya seperti Hindu, Buddha dan Shinto.

“Makam Babullah ada di Haifa, Israel. Saya khawatir pengikut Baha’i akan minta izin pemerintah untuk dibolehkan ziarah ke Israel dengan alasan agama,” ungkap Muhyidin.

Ditempat terpisah, Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Ikatan Da’i Indonesia (Ikadi), KH. Ahmad Satori Ismail menyatakan, Baha’i termasuk ke dalam 11 kriteria aliran sesat yang telah ditetapkan MUI.

Salah satu kriteria aliran sesat MUI, lanjut Satori, adalah pengakuan adanya nabi baru setelah Nabi Muhammad SAW. Dari sisi ini, Bahai sangat dekat dengan Ahmadiyah Qadian.

MUI memang tidak menetapkan satu per satu aliran apa yang termasuk sesat dalam agama Islam. “MUI hanya menetapkan 11 kriteria aliran sesat berdasarkan fatwa MUI,” ungkap Satori.

Baha’i masuk ke Indonesia sejak sekitar tahun 1878, dibawa oleh dua orang pedagang dari Persia dan Turki, yaitu Jamal Effendi dan Mustafa Rumi. Dalam website resmi Agama Baha’i di Indonesia, dijelaskan, Agama Baha’i adalah agama yang independen dan bersifat universal, bukan sekte dari agama lain.

Sebagai catatan, tahun 2009 lalu, ratusan penganut agama ini sempat membuat heboh warga Tulungagung. Warga menolak keberadaan mereka karena ritualnya dianggap menyesatkan. Para penganut ajaran ini meyakini kitab suci mereka adalah Akhdas. Sedangkan salatnya berkiblat ke Gunung Karmel atau Karamel di Israel. Mereka salat sehari sekali, dan berpuasa hanya 17 hari.  Beberapa penganut agama ini juga tercatat di Kota Samarinda, Kalimantan Timur.

Selain itu, beredar kabar yang memberitakan bahwa Baha’i adalah sebuah paham atau aliran sesat yang dipelihara dan dimunculkan saat diperlukan saja. Yang menjadi pertanyaan adalah siapa yang memeliharanya? Begitulah silontong.com berkicau dalam blognya.

Baca Juga Berita Nasional lainnya yaitu Apa Itu Agama Baha’i. Sekian Informasi Agama Baha’i dan Komentar Kritik Ulama MUI

Advertisement