Batu Idocrase Aceh Termahal Asal Takengon Terjual Rp 150 Juta

1617
Advertisement

Batu Idocrase Aceh Termahal – Kampung Lumut di Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, kini dikenal selaku lumbung batu mulia yang berkualitas baik.

Selain jenis batu akik netprit, Desa Lumut ini juga mempunyai jenis batu idocrase. Tanpa disangka, batu giok jenis Batu Idocrase tersebut laku terjual Rp 150 juta dengan berat 870 gram.

Advertisement

Batu Idocrase tersebut dibeli oleh Ketua Harian Asosiasi Pengusaha Batu Alam Aceh, Wen Syukur dari warga Lumut. Menurutnya, jenis Batu Idocrase Lumut memiliki kualitas terbaik dibandingkan dengan jenis batu akik lainnya.

Sebelumnya Wen Syukur pernah menjual batu permata yang sama pada tahun 2009 silam ke-pada salah seorang warga Negara Jepang dengan berat 4, 5 kg, ketika itu dengan harga senilai Rp 19 juta.

“Setelah tahun 2009 tersebut, baru kali ini kembali saya memperoleh jenis batu yang sama, ” kata Wen Syukur di kantor HIPMI Aceh Tengah.

Menurut Ketua Harian Asosiasi Pengusaha Batu Alam Aceh ini, jenis batu idocrase banyak sekali ditemukan di Kampung Lumut dan juga sekitarnya. Jenis batu permata ini memiliki pangsa pasar yang amat menjanjikan hingga pasar luar negeri sekalipun.

“Sudah ada yang mencoba untuk dijual ke beragam daerah hingga luar negeri, dan lumayan menjanjikan, ” ujarnya.

Disisi lain, Warga Aceh Tengah tiap hari memburu batu giok ke sejumlah kampung terdekat. Selain Kampung Lumut, juga ada juga yang mencarinya ke Pantan Reduk beserta Gemboyah. Ini disebabkan harga batu idocrase aceh yang semakin tinggi, dan bahan baku mulai sulit didapat.

Konon!! Kampung Lumut di Takengon adalah kawasan yang semenjak lama diketahui memiliki kualitas batu giok terbaik dengan khasiat yang luar biasa, Batu yang memiliki kadar kekerasan Moh’s yang amat tinggi. “Giok Gayo yang telah saya uji kekerasan di laboratorium di Jakarta dan memiliki kadar kekerasan mencapai 7, 3 Skala Moh’s, ” terang Wen Syukur.

Masih Menurutnya, giok Aceh ini memiliki kualitas nomor dua di dunia. Kelas I memiliki nilai kekerasan antara delapan hingga sepuluh Skala Moh’s, sedangkan kelas duanya sekitar tujuh hingga delapan.

Namun, Wen Syukur disisi lain juga menyebutkan bahwa saat ini ada keluhan, batu giok asal Gayo tersebut kurang promosi.

”Hanya pemburu dan juga pengusaha batu akik yang me-ngetahui giok Lumut asal Aceh Tengah. Sementara masyarakat luas sulit mengetahuinya, sebab dalam pembuatan surat ataupun sertifikat batu tidak disebutkan giok Lumut Gayo tetapi Lumut Aceh, ” ujarnya.

Advertisement