Cerita Cinta Romantis 2018

412

Membaca merupakan sebuah kegiatan yang menyenangkan, termasuk membaca Cerita Cinta Romantis. Memiliki kegemaran membaca juga bisa memberikan manfaat yang baik untuk kamu. Dengan membaca kita bisa menambah banyak wawasan dan sumber inspirasi. Kini membaca menjadi lebih mudah karena kita tidak harus memiliki atau meminjam sebuah buku lagi. Dengan mengakses internet kita bisa membaca berbagai macam jenis bacaan yang kita inginkan. Salah satunya adalah Bacaan Cerita Cinta Romantis Yang Menginspirasi atau bisa juga membaca berita Islam seperti Artikel Syarat Sah Nikah dan lain sebagainya.

Bacaan jenis romansa memang tidak semua orang menyukainya. Penyuka jenis bacaan ini biasasanya seseorang yang memiliki hati lebih peka dan Cinta Romantis. Tidak semua cerita cinta romantis bisa dirasakan keromantisannya oleh sembarangan orang. Namun selalu ada banyak pelajaran dari kisah-kisah romantis yang bisa menginspirasi hubungan romansa kamu. Ini dia beberapa Cerita Cinta Romantis yang bisa kamu baca.

Cerita Cinta Romantis Untuk Anda

Cincin Di Saku Kemeja

Akhir-akhir ini aku merasa tidak tenang. Seringkali aku mendapati gelagat suamiku nampak aneh. Sering pulang terlambat dan bersikap dingin padaku. Tiap kutanya dia hanya berkelakar, kemudian berlalu begitu saja. Sama seperti hari-hari sebelumnya hari ini dia pulang terlambat dari biasanya tanpa penjelasan yang jelas. Entah mengapa, aku selalu merasa tak tenang dan khawatir berlebihan. Mungkin karena hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Ya, selama 8 tahun menjadi istrinya aku tak pernah sekalipun securiga ini dengan suamiku.

Meskipun kami menikah dijodohkan oleh kedua orang tua kami yang notabene adalah sahabat dan kenalan dekat, keluarga kecil kami tidak pernah sekalipun mengalami cobaan hebat. Kecuali 3 tahun yang lalu ketika aku dan suami harus merintis kembali semuanya dari awal ketika usaha kain tekstil warisan ayahnya bangkrut. Kini suamiku hanyalah seorang pegawai swasta di sebuah perusahaan dikawasan Tanggerang.

Krek…

Terdengar suara pintu kamar terbuka. Rupanya dia sudah pulang.

“Sayang..maaf pulang terlambat lagi”

Dia membelai kepalaku, kupejamkan mataku dan kurasakan kumis tipisnya menyentuh keningku. Aku hanya terdiam. Tak ada satupun pertanyaan yang terucap, semuanya hanya tertahan didalam hatiku.

Dia menanggalkan kemeja birunya dan berjalan kekamar mandi. Sedangkan aku, seperti biasa memungut kemeja yang ia tinggalkan diatas tempat tidur kami dan beranjak dari kamar. Sampai tiba-tiba terdengar suara benda jatuh di lantai kamarku dekat pintu. Kulihat sebuah kotak kecil berwarna merah hati. Sepertinya sebuah kotak perhiasan. Kubuka kotak itu, dan hatiku serasa melorot dari tempatnya. Kudapati sepasang cincin kawin emas ada di dalamnya. Apa ini? Jantungku berdegup, tangan dan kakiku terasa dingin seketika. Serasa tenggorokanku tercekik dan air mata ku terbendung di pelupuk mata dengan hati yang bertanya-tanya. Apakah suamiku akan menikah lagi?

Selama delapan tahun usia pernikahan kami, kami memang belum dikarunia momongan. Dan hal inilah yang selalu membuatku merasa berkecil hati sebagai istrinya. Aku selalu merasa bahwa aku adalah istri yang gagal. Peranku sebagai wanita masih jauh dari sempurna ketika memberinya momongan saja aku masih belum bisa.

Aku terkejut, kudengar suara langkah kaki mendekat ke arahku. Suamiku telah selesai dengan mandinya dan menatap ku diam beberapa saat.

“Jadi udah ketauan ya? Hehe” dia tertawa sambil duduk diatas tempat tidur di kamar kami. Tangan kanannya tak berhenti menggosokan handuk ke kepala untuk mengeringkan rambutnya.

“Cincin itu baru aku beli tadi, jadi setelah lembur selama 3 bulan rutin akhirnya aku bisa mengganti cincin kawin kita yang dulu kita jual untuk tambah-tambah beli rumah ini mah..”

Hah? Aku tertegun. Belum sempat menjawab apapun, suamiku melanjutkan lagi kalimatnya.

“Tiga hari lagi kan ulang tahun pernikahan kita, rencananya aku mau kasih kejutan cincin itu ke kamu. Sambil dinner romantis gitu. Kita kan ngga pernah dinner saking harus ngiritnya karena keadaan kita yang masih belum mapan. Eh, tapi udah ketauan duluan hehe yaudah gimana lagi”.

Aku tak bisa lagi menahan air mataku. Semuanya tumpah dan isakanku terdengar juga. Kupeluk suamiku erat-erat. Betapa aku menyesal sudah berpikir buruk mengenai dirinya. Harusnya ku tau bahwa dia memang tidak pernah menyalah gunakan kepercayaanku. Dia sudah berusaha keras membahagiakan aku, tapi aku justru berpikir yang tidak-tidak akan usahanya selama ini.

Suamiku tampaknya kebingungan dengan apa yang terjadi. Dia memang bukan tipikal pria yang macam-macam. Pikirannya begitu sederhana, tak seperti aku yang seringkali ribet dan khawatir dengan hal-hal yang dia anggap tak jelas dan tak layak dikhawatirkan.

Ya Tuhan, terimakasih..

Senja Dini Hari

Laki-laki itu mengeluarkan sebatang rokok lagi dan menyalakannya. Rokok yang ke empat. Entah sudah berapa lama kami duduk berhadapan tanpa seorang pun diantara kami memulai pembicaraan. Aku berkali-kali menatap nya diam-diam. Barang kali dia melakukan  hal yang sama, maka mata kami akan saling beradu dan berbicara tanpa bahasa. Tapi ternyata tidak. Dia terlalu sibuk memikirkan sesuatu yang aku tak tahu sambil sesekali meliukan asap rokoknya ke udara. Sekedar saling menatap dan berbicara melalui sorot pandang pun tidak kami lakukan. Entahlah, bergerak hanya untuk sekedar membetulkan posisi duduk ku saja aku agak enggan. Aku berani bertaruh, dia tidak sadar kalau sikap nya membuat ku salah tingkah.

Kali ini aku memberanikan diri untuk menatap nya lebih lama. “Semoga dia tidak sadar kalau aku sedang memperhatikan”. Menyapu seluruh tubuhnya dengan tatapan ku adalah hal yang paling tidak bisa aku tahan. Terlebih lagi ketika sapuan tatapan ku sampai di wajahnya, menarik sekali. Rambutnya hitam dan ikal hampir menyentuh bahu. Mungkin sudah berbulan-bulan dia tidak memotong rambutnya. Kumis dan jambangnya terlihat jelas tapi tidak terlalu tebal. Entah apa alasan dia tidak memangkasnya tapi itu brillian. Dia semakin terlihat tampan. Kulitnya berwarna kecokelatan. Tidak putih tapi dia terlihat bersih. Sorot matanya tajam dan hidungnya mancung. Kuperhatikan juga lubang hidungnya. Agak sedikit besar, tapi proporsinya pas dan tidak merusak keindahan wajahnya. Wajahnya tirus. Tulang rahangnya terlihat keras di balik rambut-rambut pendek yang membentuk garis hitam membingkai wajahnya.

Sungguh pemandangan yang memabukan yang membuat ku lupa diri dan lupa waktu. “Terima kasih Tuhan atas pemandangan menakjubkan yang kau suguhkan di hadapan ku di senja ini.”

Laki-laki itu menghisap rokoknya lagi yang kini ukurannya sudah tidak lebih panjang dari separuh jari kelingking orang dewasa. Dia menatap layar laptopnya dengan teliti. Matanya bergerak-gerak seolah-olah sedang membaca hal penting. Sementara dia menyimak sesuatu di layar laptopnya di meja seberang sana, aku menyimaknya yang sedang menyimak sesuatu di layar laptopnya di meja ku sendiri.

Pesananku datang, hot chocolate. Waitress cafe ini meletakkannya diatas meja sambil menyebutkan nama minuman yang kupesan. Kuucapkan terimakasih tanpa mengalihkan pandanganku dari laki-laki diseberang sana. Mungkin dia semacam freelancer atau semacam itu. Pekerjaan macam apalagi yang membuat seseorang berada di sebuah cafe dengan secangkir espresso, laptop dan wifi. Tak lama laki-laki itu beranjak dari kursinya, membereskan semua barangnya yang ada diatas meja. Membayar bill dan dia pergi. Masih sama seperti hari-hari sebelumnya, dia beranjak tanpa menyadari kehadiranku disana.

Ya, aku adalah pemuja rahasia atau apapun sebutan yang pantas untuk ku. Cerita seperti tadi sudah berjalan sekitar tiga bulan lamanya. Aku hafal tiap akhir pekan dia akan datang ke cafe yang sama, memesan menu yang sama, membawa barang-barang itu-itu saja, menghisap rokok yang sama, dan duduk di meja yang sama. Dan ku pilih tempatku sendiri untuk bisa memandanginya dari kejauhan. Aku menyukainya, meskipun belum mengetahui siapa namanya.

                                                                                ***

“Ah sial aku ketiduran..” aku mengumpat sambil melompat dari tempat tidur. Ada rasa sesal karena tertidur beberapa menit karena seharusnya aku sudah ada di cafe lagi hari ini untuk melihatnya seperti biasa. Kulihat jarum jam tanganku menunjukkan pukul empat lebih lima menit. Aku berlari dari kamar kos ku. Kudapati gerimis turun membasahi jalanan.

Tak kuhiraukan tubuhku yang mulai basah, aku berlari-lari kecil menuju cafe kecil itu yang kebetulan tak begitu jauh dari lokasi rumah kos yang kutempati. Ketika sampai, kusapu sekeliling ruangan di cafe itu dan mencari-cari sosoknya. Nihil. Hanya ada dua pengunjung duduk berhadapan di satu table. Namun tak kutemukan sosok laki-laki yang ingin kuketahui namanya. Aku kecewa berat, kududukan tubuhku yang kelelahan akibat berlari-lari tadi. Kuatur nafasku dan aku tak tahu kenapa aku menangis sendirian. Sampai tiba-tiba seorang waiter cafe menghampiriku.

“Selamat pagi kak, ada seseorang menitipkan ini untuk kakak.” Dia menyodorkan selembar kertas yang dilipat menjadi dua.

“Dari siapa?”

“Laki-laki yang biasa duduk diseberang sana”.

Waiter itu berlalu, tak sempat ku ucapkan terimakasih langsung buru-buru kubuka lipatan kertas tadi dengan tanganku yang agak basah. Ada debaran yang berujung senyum diwajahku setelah kudapati isi tulisan dari kertas tadi.

hai Renata, maaf hari ini tak bisa duduk di seberang mu seperti biasa. Semoga ketidak hadiranku tidak merubah rasa cokelat panas mu ya hehe..tak baik juga anak gadis begadang dan keluyuran sendirian seperti itu.. hey aku sudah tau namamu, kamu tak ingin tau namaku?…dari Senja di dini harimu”

Itu dia beberapa cerita romantis yang dikutip dari Aktual.ID dan semoga bisa menjadi inspirasi untuk kamu yang gemar membaca dan juga sedang ingin menulis sebuah cerita pendek. Selain itu dua Cerita cinta romantis Terbaru 2018 tadi tentunya juga bisa menjadi bahan bacaan untukmu menjelang tidur. Apalagi jika kamu penyuka cerita-cerita cinta yang mengesankan.

Baca Juga : Cerita Lucu Singkat dan Cara Membuat Makalah

Semoga Bacaan Cerita Cinta Romantis Yang Menginspirasi ini bermanfaat dan menginspirasi kehidupan Anda.