Sunni Vs Syiah dalam Sejarah Islam

Sunni Vs Syiah dalam Sejarah – Akademisi Sejarawan Islam, Ustadz Alwi Ali Alatas menyatakan bahwa konflik antara Ahlussunah Waljama’ah – Syiah Laknatillah di masa kini, banyak memiliki kemiripan dengan suasana perkhianatan aliran sempalan sesat syiah sebelum masa Perang Salib.

“Ini bukanlah hal yang pertama kali terjadi, kita pernah mengalaminya dulu pada era se-belum Perang Salib, ” Ustadz Alwi Ali Alatas.

Dalam kesempatan yang ada tersebut, Tgk Alwi Ali mengisahkan perseteruan antara Ahlussunah Waljama’ah Vs Syiah Laknatillah (Sunni Vs Syiah) pada abad 10 hingga 12. Peperangan bermula ketika munculnya Dinasti Syiah Fatimiyyah di Tunisia yang pada 60 tahun lalu memindahkan pusat kekuasaannya di Kairo, Mesir.

“Pada awalnya, ketegangan telah ada sebelumnya, cuma saja sempalan Syiah belum memiliki kekuasaan politik, ” ujarnya lagi.

Tgk Alwi Ali juga menyatakan bahwa kisah pada masa kekhalifahan dulu, sengaja dia angkat sebab kondisi hubungan masyarakat Ahlussunah Waljama’ah – Syiah Laknatillah memiliki kemiripan masa kini. Syiah telah memiliki kekuasaan politik, dan juga konfliknya bukanlah Cuma pada ranah pemikiran melalui buku / kitab sesat syiah, namun telah dalam konflik perebutan wilayah kekuasaan.

“Pada zaman dahulu, kita semua pernah memiliki masalah besar dengan Syiah, dimana kekejaman syiah masuk dalam fase yang serius, fase yang lebih serius di zaman kini, ” ucap Ustadz Alwi.

Bacaan Sejarah dari Kekhalifahan Daulah Islam Abbasiyah: Sempalan Sekte Syiah Berkuasa Ketika Muslim Sunni Melemah

Kekhalifahan Daulah Islamiyyah Abbasiyah telah berkuasa semenjak tahun 775 H silam, namun ketika itu kelompok Sempalan Syiah belum berkuasa. Hingga pada akhirnya, beberapa abab berlalu, lalu Dinasti Abbasiyah mengalami kemunduran, hingga akhirnya Syiah mengambil peluang.

“Pada awalnya kawasan itu termasuk kedalam Kekhalifahan Abbasiyah, namun daerah-daerah tersebut sudah mulai menjadi pemerintahan otonomi, desentralisasi, ” jelas Tgk Alwi Ali.

Masa desentralisasi dan sesudahnya, Wilayah otonom Kekhalifahan Daulah Islam Abbasiyyah melaksanakan pola pewarisan kekuasaan melalui garis keturunan keluarga. Itu terjadi sekitar tahun 778 s.d. 909 H, belum ada Syiah, baru pada tahun 909 H, muncullah Dinasti sempalan sesat Syiah Fathimiyyah yang saat itu wilayah kekuasaannya masi kecil.

“Wilayahnya Masih belum besar, tetapi lalu syiah ini melebar, makin kuat kekuasaannya. Bahkan pula, nanti ada masa-masa dimana Dinasti Syiah Fathimiyah lebih besar dan lebih kuat dari Daulah Islam Abbasiyah,” jelas Tgk Alwi Ali yang telah menulis 25 buku ini.

Beliau menegaskan bahwa Sempalan Syiah ini menjadi lebih kuat kekuasaannya, bukanlah semata-mata disebabkan karena Syiah itu kuat. Namun, pada masa tersebut, Sunni sedang mengalami fase-fase kelemahan.

“Sebagaimana sedang kita alami masa kini, ” sebutnya lagi.

Pada awal abad ke-11 Hijriah yakni pada tahun 999 H, Sempalan Syiah Fathimiyyah akhirnya mencapai Mesir, mereka memindahkan pusat kekuasaannya ke Kairo (Ibukota Mesir sekarang). Pada separuh ke-2 abad ke-10. Mereka menguasai wilayah Afrika Utara, Mesir, beberapa bagian kecil Syam, dan juga Hijaz. Namun meski demikian, Syiah Fatimiyyah ini cuma kuat dalam politik dan militer.

“Sekte Syiah sesat ini tidak mengakar dihati banyak orang, masyarakat Mesir dan juga ulama-ulamanya masih banyak yang Sunni Ahlussunnah Waljama’ah. Lain dengan yang terjadi di Republik Syiah Iran, ” katanya.

Tgk Alwi Ali kembali menyatakan, kuatnya pengaruh paham sesat Syiah pada masa tersebut dikarenakan kaum muslim ketika itu mengalami kelemahan. Hal ini juga persis dengan apa yang terjadi menjelang perang Salib, Muslim Sunni juga mengalami kelemahan.

“Bahkan tantangan Sunni sebenarnya adalah Syiah, baru kemudian Perang Salib, Satu rangkaian sebenarnya, ” ungkapnya lagi.

Lanjutnya lagi, pada tahun 1058 akhirnya terjadilah pemberontakan al Basasiri di Baghdad. Ketika itu, Turki Saljuk yang Sunni bermazhab Hanafi, mulai masuk ke Baghdad. Turki Saljuk saat itu diangkat oleh Khalifah Daulah Islam Abbasiyyah untuk menghadapi Syiah Fathimiyyah sebab memiliki militer yang kuat.

“Namun, awal-awal kekuasaannya, Turki Saljuk maju mundur dari Baghdad, Saljuk mundur ke wilayah Timur sebab ada urusan di situ, mereka belum membangun basis militer yang kuat, ” ujar Pria yang tengah menempuh studi doktoral di IIUM Malaysia.

Kekuasaan Al Basasiri yang dijatuhkan Turki Saljuk di Baghdad, ternyata Al Basasiri ini bekerjasama dengan Sempalan Syiah Fathimiyah. Dinasti Syiah Fathimiyyah memberikan dukungan senjata, nasehat militer, dan juga dukungan lainnya kepada Al-Basasiri. (Baca : Kekejaman Syiah terhadap Muslim Sunni)

Kelompok Al-Basasiri ketika itu berhasil menjatuhkan Baghdad, lalu menguasainya selama satu tahun .Bahkan, Khalifah Abbasiyah tersebut ditahan, tetapi tidak sampai dibunuh.

“Selama satu tahun Al-Basasiri menguasai kota Baghdad, Sunni ketika itu habis. Doa-doa di Baghdad di-berikan pada penguasa Syiah Fathimiyah di Mesir. Meski tidak total, masih ada Saljuk, ” tegas Ustadz Alwi.

Setahun berlalu, akhirnya Turki Saljuk masuk ke jantung kota Baghdad, Al-Basasiri ditumbangkan dan juga ditahan. Khalifah diangkat kembali, sementara wilayah Syam dan juga Hijaz direbut kembali.

“Hingga akhirnya dinasti syiah Fathimiyah ini cuma menguasai petak kecil di Mesir, ancaman Saljuk ini Mengancam Kristen Byzantium, ” ujarnya.

Turki Saljuk sendiri ketika itu yang paling menonjol ialah wazirnya, Nizamul Mulk Se orang Sunni asal dari Persia. Nizamul Mulk adalah wazirnya Tugril Bek, Aid Arsalan, dan juga Malik Syah.

“Nizamul Mulk ketika itu adalah salah seorang tokoh Sunni Revival selain Imam Ghazali. dari ulamanya ialah Imam Ghazali dari Umaronya Nizamul Mulk, ” imbuhnya.

Sumbangan yang paling besar Nizamul Mulk ialah madrasah Nizhamiyah. Dia yang banyak mengundang ulama-ulama besar untuk mengajar di Madrasah Nizhamiyah.

“Kemudian, pada tahun 1092 Nizamul Mulk dibunuh oleh Assasins. sebulan lalu, Sultan Malik Syah meninggal dunia. Turki Saljuk pecah. Singkat cerita begitu, ” ungkapnya.

Sesudah Turki Saljuk ini Pecah kedalam wilayah-wilayah kecil, diawalilah dunia Islam memasuki masa perang Salib. Meski Saljuk pecah, proyek Sunni Revival juga tidak berhenti, pemikiran Imam Ghazali dan juga madrasah-madrasah terus dihidupkan oleh Saljuk.

“Bukan madrasah Nizhamiyah saja, lebih-lagi para amir berlomba-lomba membikin madrasah hingga nanti pada zamannya Shalahuddin Al Ayubi, ” tegas Ustadz Alwi Alatas. (Kiblat/IDJ)

Baca Juga : Dosa Zina dan Arti Mimpi Menikah

tags: